KAJIAN CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI”
KARYA A. A. NAVIS
BERDASARKAN PENDEKATAN PRAGMATIK
Hidup itu seperti sebuah timbangan. Jika salah satu sisi
beratnya melebihi sisi lainnya, maka akan membuat timbangan itu miring ke salah
satu sisi saja. Ia tidak dapat berdiri seimbang. Untuk itu, keduanya harus di
isi dengan berat yang sama agar mendapatkan keimbangan. Begitu pula dalam
kehidupan yang menuntut adanya keseimbangan untuk memperoleh kebahagiaan di
dunia maupun di akhirat.
Salah satu hal yang dapat di lakukan untuk memperoleh
keseimbangan tersebut adalah dengan bekerja keras demi mendapat kebaikan di
dunia tanpa melalaikan kewajiban sebagai umat muslim yaitu ibadat dan beramal
sholeh yang akan membawa kebaikan di akhirat.
Untuk dapat beramal saleh seperti bersedekah, tentunya
membutuhkan harta untuk diberikan kepada yang hak. Namun, hal tersebut tidak
akan dapat terwujud bila seseorang tidak memiliki harta. Harta tersebut
tidaklah datang dengan sendirinya, melainkan melalui usaha dan kerja keras.
Setiap manusia di dunia ini pasti mendambakan kebahagiaan
di akhirat kelak. Untuk itu, manusia harus menyadari bahwa pada hakikatnya ia
adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari orang-orang di sekelilingnya.
Hablumminannas dan Hablumminallah, hubungan dengan manusia dan
hubungan dengan Tuhan. Untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, maka hubungan
manusia dengan keduanya haruslah baik. Seseorang tidak dibenarkan mengabaikan
saudaranya sementara ia sibuk dengan urusan yang sifatnya individualistis. Itu
terlalu egois. Ia menginginkan hidup berbahagia di akhirat kelak dengan
mengacuhkan segala kehidupan duniawi yang berhubungan dengan kebahagiaan
manusia lainnya.
Paragraf di atas menggambarkan keadaan seperti yang
tersirat dalam salah satu cerpen karya A. A. Navis yang berjudul “Robohnya
Surau Kami”.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” merupakan salah satu karya
yang cukup fenomenal pada zamannya. Cerpen tersebut tidak hanya memberikan pelajaran
berharga pada masyarakat di zamannya, namun juga bagi pembaca di era milenium
seperti sekarang ini. Dapat dikatakan bahwa pesan moral yang terdapat dalam
cerpen ini tak lekang oleh waktu.
Bercerita
mengenai seorang kakek yang hanya beribadah tanpa mau berkerja keras untuk
kehidupan dunia, karena keegoisannya untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Sebenarnya
salah satu yang dikehendaki islam dari umatnya adalah agar mereka menjadi umat
yang gemar bekerja, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Seorang muslim
yang suka bekerja keras untuk mencari kepentingan dunia dalam rangka menggapai
keridhoan Allah, pasti akan mendatangkan kecintaan Allah kepadanya. Begitu pula
sebaliknya, Allah membenci orang-orang yang malas dan berpangku tangan.
Cerpen ini seperti sebuah sindiran yang ditujukan
pengarang kepada orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan akhirat tanpa
memikirkan urusan dunia. Sementara, ia hidup di dunia. Diakhir cerpen, AA.Navis
juga seakan ingin memperlihatkan bahwa tidak selamanya orang yang terlihat taat
beribadah adalah orang yang kuat hatinya. Ia menceritakan kehidupan Kakek yang pada
akhirnya meninggal bunuh diri karena terlalu resah memikirkan perkataan Ajo
Sidi. Padahal, seperti semua orang ketahui bahwa bunuh diri adalah tindakan
yang dilarang oleh agama dan dilaknat oleh Allah SWT.
Cerpen ini dikemas dengan apik dalam bahasa yang menarik,
sederhana, dan ringan sehingga dapat dibaca oleh semua kalangan masyarakat.
Tidak hanya itu, cerpen yang sarat akan nilai keagamaan dan sosial ini dapat
menyihir para pembacanya, sehingga tanpa sadar pembaca dibuat terbuka mata
hatinya dan merenungi segala peristiwa yang terjadi dalam cerpen “Robohnya
Surau Kami”.
Meski demikian, cerpen yang kental dengan ke Minang-an
nya ini menyuguhkan tuturan yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari
seperti “pemeo” (terdapat di halaman 3), “belek susu” (terdapat di
halaman 3 paragraf ke-1 baris ke-5) dan “Orang tua menahan ragam”
(terdapat di halaman 4 paragraf ke-2). Hal tersebut dapat menyulitkan
pembaca dalam mencerna maksud penulis, karena tidak semua pembaca mengetahui
makna yang terkandung dalam kata ataupun kalimat tersebut. Selain itu, di dalam
bacaan terdapat pemborosan kata seperti dalam kutipan “semua pelaku-pelaku”
(terdapat di halaman 3 paragraf ke-2). Seharusnya, penulis cukup menulis “semua
pelaku” atau “pelaku-pelaku” karena kata ”semua” sudah menyatakan
bahwa pelaku itu berjumlah banyak.
Kentalnya
nuansa religius dapat dilihat dari kata-kata dalam cerpen ini, seperti “masya
Allah”, “kitab-Nya”, “sembahyang”, Alhamdulillah", “astagfirullah”, dan
sebagainya.(terdapat di halaman 5 paragraf ke-1). Adapun hal lainnya dapat
dilihat dari isi cerita melalui kegiatan tokoh Kakek yang taat beribadat kepada Allah SWT. “... segala
tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia
menjadi garin, penjaga surua itu.” (terdapat di halaman 1), percakapan
antara kakek dan Aku “... segala kehidupanku lahir batin, kuserahkan pada
Allah SWT. ...” (terdapat di halaman 5 paragraf 1), maupun dari cerita Ajo Sidi mengenai dialog
antara Haji Saleh dan Tuhan, seperti “Ya Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain
daripada beribadat menyembah-Mu. menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasihmu,
ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa,
mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.”
Selain itu, cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen
yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Peristiwa dalam cerpen ini memang benar
terjadi dalam kehidupan nyata, tidak hanya di zaman dulu, melainkan di zaman
yang mengarah pada sekularisasi seperti sekarang ini. Tak heran bila cerpen
“Robohnya Surau Kami” dapat membawa pembaca hanyut dengan untaian kata dan
pesan yang tersirat dalam cerpen ini.
Dalam cerpen ini, banyak pelajaran yang dapat
diambil seperti : 1) seimbang dalam melakukan kegiatan untuk dunia dan akhirat.
2) manusia hidup tidak hanya untuk beribadah wajib saja, melainkan beramal
shaleh juga. 3) demi mencapai kebahagiaan di akhirat kelak, tidak hanya dengan melakukan
shalat dan puasa saja, melainkan bekerja keras, peduli terhadap sesama,
sedekah, dan lain sebagainya. 4) ikhlas dalam melakukan sesuatu, seperti tokoh
kakek ketika membantu tetangga-tetangganya mengasah pisau tanpa mengharap
imbalan apapun. 5) untuk menunjukan ketaqwaan terhadap Tuhan tidak hanya dengan
beribadah saja, tetapi juga memikirkan kehidupan dunia dengan bekerja keras dan
bertanggung jawab terhadap keluarga. 6) Jangan cepat marah bila ada orang lain
yang menasehati kita mengenai perbuatan kita yang kurang baik. 7) jangan merasa bangga atas segala ibadat yang kita
lakukan. 8) jangan terpesona dengan sebuah gelar dan nama besar, karena di
akhirat kelak gelar atau nama bukanlah hal yang penting. 9) tidak menyia-nyiakan
apa yang dimiliki, seperti firman Tuhan pada cerpen ini “…,
kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua,
sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu
mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri,
saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau
malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan
peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal
disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin .…”. 10)
tidak mementingkan diri sendiri, seperti firman Tuhan dalam cerpen ini”…. Kesalahan engkau,
karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka,
karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu
sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar
kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal
engkau didunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan
mereka sedikitpun.”
Cerpen
“Robohnya Surau Kami” ini cocok dibaca oleh semua usia dan kalangan masyarakat.
Meski demikian, tampaknya cerpen ini lebih ditujukan bagi kalangan yang
memiliki pemikiran untuk lebih fokus pada kehidupan akhirat daripada kahidupan
dunia.
Dalam pembelajaran, cerpen ini cocok digunakan sebagai
salah satu sumber referensi, baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah.
Khususnya dalam bidang studi Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia, dan Pendidikan
Agama Islam.
Cerpen ini mengajarkan bahwa ridha
Allah tidak hanya di dapat dari taatnya seorang hamba beribadah, melainkan
kesanggupan seorang hamba untuk mengamalkan segala perintah-Nya serta menjauhi
larangan-Nya. Allah memerintahkan umat manusia untuk saling berbagi, mengasihi,
dan menyayangi. Tatkala hal tersebut dihadapkan pada materi, maka orang
tersebut dituntut harus memiliki materi yang cukup agar dapat memperbaiki
hidupnya, menjaga keluarganya, menuntun anak dan istrinya ke jalan yang di
ridhai oleh Allah, serta berbagi dan memberi kepada yang hak. Tentunya itu
semua membutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Allah menyukai orang yang giat,
baik menabung harta bagi kehidupan duniawi maupun menabung amal shaleh sebagai
bekal bagi kehidupan di akhirat kelak.
Allah sungguh menyukai sesuatu yang
pas, tidak berlebih-lebihan. Begitu pula dengan kehidupan. Allah senang
terhadap orang-orang yang seimbang dalam melakukan sesuatu, taat beribadah
namun tetap tak melupakan fitrahnya sebagai manusia.
Beribadah tak hanya perlu, melainkan
wajib. Tetapi kehidupan untuk saling peduli terhadap sesama adalah hal yang tak
kalah pentingnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar