Pengikut

Minggu, 05 Februari 2012

robohnya surau kami

KAJIAN CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI
KARYA A. A. NAVIS
BERDASARKAN PENDEKATAN PRAGMATIK




Hidup itu seperti sebuah timbangan. Jika salah satu sisi beratnya melebihi sisi lainnya, maka akan membuat timbangan itu miring ke salah satu sisi saja. Ia tidak dapat berdiri seimbang. Untuk itu, keduanya harus di isi dengan berat yang sama agar mendapatkan keimbangan. Begitu pula dalam kehidupan yang menuntut adanya keseimbangan untuk memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Salah satu hal yang dapat di lakukan untuk memperoleh keseimbangan tersebut adalah dengan bekerja keras demi mendapat kebaikan di dunia tanpa melalaikan kewajiban sebagai umat muslim yaitu ibadat dan beramal sholeh yang akan membawa kebaikan di akhirat.
Untuk dapat beramal saleh seperti bersedekah, tentunya membutuhkan harta untuk diberikan kepada yang hak. Namun, hal tersebut tidak akan dapat terwujud bila seseorang tidak memiliki harta. Harta tersebut tidaklah datang dengan sendirinya, melainkan melalui usaha dan kerja keras.
Setiap manusia di dunia ini pasti mendambakan kebahagiaan di akhirat kelak. Untuk itu, manusia harus menyadari bahwa pada hakikatnya ia adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari orang-orang di sekelilingnya. Hablumminannas dan Hablumminallah, hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Tuhan. Untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, maka hubungan manusia dengan keduanya haruslah baik. Seseorang tidak dibenarkan mengabaikan saudaranya sementara ia sibuk dengan urusan yang sifatnya individualistis. Itu terlalu egois. Ia menginginkan hidup berbahagia di akhirat kelak dengan mengacuhkan segala kehidupan duniawi yang berhubungan dengan kebahagiaan manusia lainnya.
Paragraf di atas menggambarkan keadaan seperti yang tersirat dalam salah satu cerpen karya A. A. Navis yang berjudul “Robohnya Surau Kami”.
Cerpen “Robohnya Surau Kami” merupakan salah satu karya yang cukup fenomenal pada zamannya. Cerpen tersebut tidak hanya memberikan pelajaran berharga pada masyarakat di zamannya, namun juga bagi pembaca di era milenium seperti sekarang ini. Dapat dikatakan bahwa pesan moral yang terdapat dalam cerpen ini tak lekang oleh waktu.
Bercerita mengenai seorang kakek yang hanya beribadah tanpa mau berkerja keras untuk kehidupan dunia, karena keegoisannya untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Sebenarnya salah satu yang dikehendaki islam dari umatnya adalah agar mereka menjadi umat yang gemar bekerja, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Seorang muslim yang suka bekerja keras untuk mencari kepentingan dunia dalam rangka menggapai keridhoan Allah, pasti akan mendatangkan kecintaan Allah kepadanya. Begitu pula sebaliknya, Allah membenci orang-orang yang malas dan berpangku tangan.
Cerpen ini seperti sebuah sindiran yang ditujukan pengarang kepada orang-orang yang hanya mementingkan kehidupan akhirat tanpa memikirkan urusan dunia. Sementara, ia hidup di dunia. Diakhir cerpen, AA.Navis juga seakan ingin memperlihatkan bahwa tidak selamanya orang yang terlihat taat beribadah adalah orang yang kuat hatinya. Ia  menceritakan kehidupan Kakek yang pada akhirnya meninggal bunuh diri karena terlalu resah memikirkan perkataan Ajo Sidi. Padahal, seperti semua orang ketahui bahwa bunuh diri adalah tindakan yang dilarang oleh agama dan dilaknat oleh Allah SWT.
Cerpen ini dikemas dengan apik dalam bahasa yang menarik, sederhana, dan ringan sehingga dapat dibaca oleh semua kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, cerpen yang sarat akan nilai keagamaan dan sosial ini dapat menyihir para pembacanya, sehingga tanpa sadar pembaca dibuat terbuka mata hatinya dan merenungi segala peristiwa yang terjadi dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”.
Meski demikian, cerpen yang kental dengan ke Minang-an nya ini menyuguhkan tuturan yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti “pemeo” (terdapat di halaman 3), “belek susu” (terdapat di halaman 3 paragraf ke-1 baris ke-5) dan “Orang tua menahan ragam” (terdapat di halaman 4 paragraf ke-2). Hal tersebut dapat menyulitkan pembaca dalam mencerna maksud penulis, karena tidak semua pembaca mengetahui makna yang terkandung dalam kata ataupun kalimat tersebut. Selain itu, di dalam bacaan terdapat pemborosan kata seperti dalam kutipan “semua pelaku-pelaku” (terdapat di halaman 3 paragraf ke-2). Seharusnya, penulis cukup menulis “semua pelaku” atau “pelaku-pelaku” karena kata ”semua” sudah menyatakan bahwa pelaku itu berjumlah banyak.
Kentalnya nuansa religius dapat dilihat dari kata-kata dalam cerpen ini, seperti “masya Allah”, “kitab-Nya”, “sembahyang”, Alhamdulillah", “astagfirullah”, dan sebagainya.(terdapat di halaman 5 paragraf ke-1). Adapun hal lainnya dapat dilihat dari isi cerita melalui kegiatan tokoh Kakek  yang taat beribadat kepada Allah SWT. “... segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia menjadi garin, penjaga surua itu.” (terdapat di halaman 1), percakapan antara kakek dan Aku “... segala kehidupanku lahir batin, kuserahkan pada Allah SWT. ...(terdapat di halaman 5 paragraf 1),  maupun dari cerita Ajo Sidi mengenai dialog antara Haji Saleh dan Tuhan, seperti “Ya Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu. menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasihmu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.”
Selain itu, cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Peristiwa dalam cerpen ini memang benar terjadi dalam kehidupan nyata, tidak hanya di zaman dulu, melainkan di zaman yang mengarah pada sekularisasi seperti sekarang ini. Tak heran bila cerpen “Robohnya Surau Kami” dapat membawa pembaca hanyut dengan untaian kata dan pesan yang tersirat dalam cerpen ini.
Dalam cerpen ini, banyak pelajaran yang dapat diambil seperti : 1) seimbang dalam melakukan kegiatan untuk dunia dan akhirat. 2) manusia hidup tidak hanya untuk beribadah wajib saja, melainkan beramal shaleh juga. 3) demi mencapai kebahagiaan di akhirat kelak, tidak hanya dengan melakukan shalat dan puasa saja, melainkan bekerja keras, peduli terhadap sesama, sedekah, dan lain sebagainya. 4) ikhlas dalam melakukan sesuatu, seperti tokoh kakek ketika membantu tetangga-tetangganya mengasah pisau tanpa mengharap imbalan apapun. 5) untuk menunjukan ketaqwaan terhadap Tuhan tidak hanya dengan beribadah saja, tetapi juga memikirkan kehidupan dunia dengan bekerja keras dan bertanggung jawab terhadap keluarga. 6) Jangan cepat marah bila ada orang lain yang menasehati kita mengenai perbuatan kita yang kurang baik. 7) jangan merasa bangga atas segala ibadat yang kita lakukan. 8) jangan terpesona dengan sebuah gelar dan nama besar, karena di akhirat kelak gelar atau nama bukanlah hal yang penting. 9) tidak menyia-nyiakan apa yang dimiliki, seperti firman Tuhan pada cerpen ini “…, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua, sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas, kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin .…”. 10) tidak mementingkan diri sendiri, seperti firman Tuhan dalam cerpen ini”…. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang, tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis, padahal engkau didunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikitpun.”
Cerpen “Robohnya Surau Kami” ini cocok dibaca oleh semua usia dan kalangan masyarakat. Meski demikian, tampaknya cerpen ini lebih ditujukan bagi kalangan yang memiliki pemikiran untuk lebih fokus pada kehidupan akhirat daripada kahidupan dunia.
Dalam pembelajaran, cerpen ini cocok digunakan sebagai salah satu sumber referensi, baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah. Khususnya dalam bidang studi Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia, dan Pendidikan Agama Islam.
Cerpen ini mengajarkan bahwa ridha Allah tidak hanya di dapat dari taatnya seorang hamba beribadah, melainkan kesanggupan seorang hamba untuk mengamalkan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allah memerintahkan umat manusia untuk saling berbagi, mengasihi, dan menyayangi. Tatkala hal tersebut dihadapkan pada materi, maka orang tersebut dituntut harus memiliki materi yang cukup agar dapat memperbaiki hidupnya, menjaga keluarganya, menuntun anak dan istrinya ke jalan yang di ridhai oleh Allah, serta berbagi dan memberi kepada yang hak. Tentunya itu semua membutuhkan suatu usaha dan kerja keras. Allah menyukai orang yang giat, baik menabung harta bagi kehidupan duniawi maupun menabung amal shaleh sebagai bekal bagi kehidupan di akhirat kelak.
Allah sungguh menyukai sesuatu yang pas, tidak berlebih-lebihan. Begitu pula dengan kehidupan. Allah senang terhadap orang-orang yang seimbang dalam melakukan sesuatu, taat beribadah namun tetap tak melupakan fitrahnya sebagai manusia.
Beribadah tak hanya perlu, melainkan wajib. Tetapi kehidupan untuk saling peduli terhadap sesama adalah hal yang tak kalah pentingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar